Menurut Galileo Galilei (1564-1642), seorang ahli matematika dan astronomi dari Italia,"Alam semesta itu bagaikan sebuah buku raksasa yang hanya dapat dibaca kalau orang mengerti bahasanya dan akrab dengan lambang dan huruf yang digunakan di dalamnya. Dan bahasa alam tersebut tidak lain adalah matematika. Berbicara mengenai matematika sebagai bahasa, maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah dalam sudut pandang mana matematika itu disebut sebagai bahasa, dan apa perbedaan antara bahasa matematika dengan bahasa-bahasa lainnya. Merujuk pada pengertian bahasa tersebut, maka matematika dapat dipandang sebagai bahasa karena dalam matematika terdapat sekumpulan lambang/simbol dan kata (baik kata dalam bentuk lambang, misalnya "≥" yang melambangkan kata "lebih besar atau sama dengan", maupun kata yang diadopsi dari bahasa biasa, misalnya kata "fungsi" yang dalam matematika menyatakan suatu hubungan dengan aturan tertentu antara unsur-unsur dalam dua buah himpunan).
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Simbol-simbol matematika bersifat "artifisial" yang baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu, maka matematika hanya merupakan kumpulan simbol dan rumus yang kering akan makna. Berkaitan dengan hal ini, tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan, banyak orang yang berkata bahwa X, Y, Z itu sama sekali tidak memiliki arti.
Orang Jawa memiliki cara yang khas untuk mengingat tahun, terutama tahun terjadinya peristiwa penting. Misalnya, sirna ilang kertaning bumi merujuk pada tahun 1400 Masehi, yaitu runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kalimat tersebut disebut sengkalan, bilangan-bilangan dalam sengkalan ini dituliskan dari kiri ke kanan. Masing-masing kata dalam kalimat tersebut memiliki watak bilangan, yaitu sirna = 0, ilang = 0, kertaning = 4, dan bumi = 1. Tahun yang dirujuk oleh sengkalan adalah Tahun Saka dalam kalender lunar (candra) maupun solar (surya). Dalam bahasa asing, sengkalan disebut dengan chronogram. Artinya tulisan/pernyataan yang mengandung makna angka tahun. Meski demikian, sengkalan tidak terbatas pada tulisan, tetapi juga pada gambar. Sengkalan bentuk gambar biasanya terdapat pada bangunan candi atau istana. Sengkalan yang berbentuk tulisan biasanya terdapat dalam naskah Jawa kuno.
Adapun beberapa contoh Watak (sifat) setiap kata adalah sebagai berikut :
Watak 1: Gusti Allah, Nabi, Janma, Srengenge, Rembulan, Bumi, Lintang, Sirah, Gulu, Nata, Irung, Ati, Bunder, Iku, Urip, Aji, Praja, Tunggal, Wutuh, Nyata, Eko, dll.
Watak 2: Tangan, Suku, Mripat, Swiwi, Alis, Penganten, Kembar, Nembah, Nyawang, Nyekel, Mireng, Lumaku, Mabur, Dwi dll.
Watak 3: Geni, Murub, Panas, Putri, Estri, Welut, Jurit, Kaya, Lir, Guna, Cacing, Sorot, Tri, dll.
Watak 4: Banyu, Segara, Kali, Kreta, Keblat, Karya, Bening, Brahmana, Satriya, Sudra, Catur, dll.
Watak 5: Buta, Angin, Alas, Jemparing, Tata, Pandawa, Panca, dll.
Watak 6: Rasa (legi, pait, asin), Tawon, Lemut, Obah, Wayang, Mangsa, Kayu, Sad, dll.
Watak 7: Gunung, Tunggangan, Pandita, Swara, Guru, Mulang, Sapta, dll.
Watak 8: Gajah, Naga, Baya, Wasu, Pujangga, Tekek, Kadal, Ngesthi, Wanara, Astha, dll.
Watak 9: Lawang, Gapura, Guwa, Jawata, Menga, Ganda, Terus, Nawa, dll.
Watak 0: Suwung, Sirna, Rusak, Tanpa, Ilang, Mati, Muluk, Duwur, Awang-awang, Suwarga, Langit, Adoh, Dasa, dll.
Jadi, matematika itu sangat erat kaitannya terhadap bahasa. sejak awal kehidupan manusia matematika itu merupakan alat bantu untuk mengatasi berbagai macam permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Baik itu permasalahan yang masih memilki hubungan erat dalam kaitannya dengan ilmu eksak ataupun permasalahan-permasalahan yang bersifat sosial.
No comments:
Post a Comment