Etnomatematika, ilmu yang erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari mengajarkan banyak hal tentang cara pembelajaran matematika yang baik dan benar. Misalnya Pembelajaran inovatif, pembelajaran yang terpusat pada siswa. Prof. Dr. Marsigit, M.A selalu mengingatkan kembali tentang pentingnya metode pembelajaran inovatif ini. Kita sebagai calon guru penting sekali untuk membuka wawasan tentang pembelajaran inovatif. Mengapa? Karena sering terjadi hal yang fenomenal dalam pembelajaran pada umumnya, khususnya matematika yaitu ketakutan siswa akan guru pengampu mata pelajaran matematika. Peristiwa ini sangat fenomenal sekali dari mulai jenjang SD, SMP hingga SMA bahkan Perguruan Tinggi, hal ini dapat membuat kondisi kelas menjadi gaduh apabila guru tidak berada dalam kelas saat pembelajaran berlangsung dan kondisi kelas menjadi sepi sekaligus mencekam jika guru sedang menerangkan mata pelajaran tersebut. Ini sebenarnya salah kaprah, kondisi kelas yang sepi atau gaduh tersebut bukanlah menjadi suatu indikator, tujuan ataupun ciri-ciri pembelajaran matematika yang baik namun adalah suatu akibat yang ditimbulkan oleh guru tersebut kepada siswa yang diajarnya. Maka dari itu penting bagi kita membuka wawasan terkait lesson study atau belajar tentang cara-cara pembelajaran yang baik. Dari guru, untuk guru, dan oleh guru.
Pendidikan itu jangka panjang, artinya selama kita masih memiliki akal, kita akan mencoba untuk selalu belajar. Dari perjalanan panjang kita selama ini dalam memperoleh pendidikan, kompleksitas masyarakat yang ada sekarang ini telah menjadi masyarakat yang memiliki bermacam-macam pola yang tentunya tidak seragam, ada tipe orang mau mengerti bila dipaksa. Tipe semacam ini pemahamannya pasti tidak akan tahan lama atau bisa dikatakan hanya sementara dan semu belaka. Ada pula tipe orang yang memiliki kreativitas yang tinggi, kreativitas itu sudah ditentukan sejak kita kecil, kepandaian kita bicara, menulis itu bukan semata-mata karena gen kita, melainkan keterampilan kita yang diasah terus-menerus dan usaha keras kita selama ini. Keterampilan berbicara, menulis, yang kita asah terus-menerus ini kelak akan sangat bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Menurut Prof. Dr. Marsigit, M.A belajar dengan cara menghafal, mengerjakan soal, belajar tentang ilmu dunia, spiritual merupakan metode belajar yang telah diterapkan pada umumnya. Beliau telah menemukan formula yang paling baik dalam metode belajar, yaitu silaturahmi (terjemah dan menerjemahkan) atau dalam bahasa yunani yaitu ermentika. Jadi jika kita ingin mempelajari segala sesuatu, kita harus bersilaturahmi dengan apa yang akan kita pelajari. Karena silaturahmi itu memenuhi semua unsur karya ilmiah. Beliau juga mengatakan tentang problem pendidikan matematika yang sebenarnya sumbernya adalah berasal dari orang dewasa atau dengan kata lain guru bukan berasal dari siswa. Seorang guru hendaknya tidak boleh mengatakan bahwa “saya bukan orang yang kreatif”, kalimat seperti itu akan menyebabkan atau dengan kata lain kita telah mendaftarkan diri mejadi problem maker. Problem maker itu tidak akan bisa menjadi solve maker. Maka, kita harus segera menyadari pentingnya rasa optimis akan kemampuan kita dalam hal apapun. Janganlah menjadi problem maker, karena itu sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Semua tergantung apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir untuk gagal, maka kita akan gagal. Jika kita berpikir untuk sukses, maka kita akan sukses, dan jika kita berpikir untuk menjadi guru yang kreatif, maka kita akan menjadi seorang guru yang kreatif.
No comments:
Post a Comment