Mathematics Education '10

Mathematics Education '10

Tuesday, February 26, 2013

Etnomatematika Sebagai Cerminan Diri

Perkuliahan pertemuan kedua masih membahas tentang seluk beluk Etnomatematika. Mulai dari pengertiannya, manfaat belajar Etnomatematika, hingga cara mempelajari Etnomatematika. Prof. Dr. Marsigit, M.A menekankan kembali mengenai pembelajaran inovatif dan menyarankan untuk meninggalkan metode pembelajaran tradisional. Metode pembelajaran matematika kata beliau adalah cerminan dari diri kita sendiri, pembelajaran inovatif adalah diri kita sendiri, pembelajaran tradisional adalah diri kita sendiri juga, otoriter, demokratis juga berasal dari diri kita sendiri. Maka dari itu kita koreksi dahulu diri kita sendiri, baru kita berbicara ke orang lain. Jangan terlalu memikirkan orang lain dahulu, pikirkanlah diri kita sendiri dulu hingga terbentuk pribadi yang tangguh, sama halnya dengan Etnomatematika, Etnomatematika adalah diri kita, diri pribadi kita, diri kita sendiri sekarang. Apa yang kita pikirkan, yang kita gambarkan, ikhtiar kita, usaha, dan karya kita itu adalah Etnomatematika. Jika kita sudah meyakini, melakukan, mempunyai hasil yang baik, apapun sistemnya kita akan menjadi manusia yang tangguh. Menyikapi kurikulum yang sering sekali berubah, jika kita memiliki sifat ini kita tidak akan mudah goyah sebagai seorang pendidik.

Etnomatematika juga memiliki sifat maknawi, hakiki dan ontologis. Etnomatematika menjadi sesuatu yang ontologis manakala dia melekat sebagai suatu keadaan dan sifat yang memang bermanfaat. Bahasa dalam Etnomatematika juga bermacam-macam tergantung wilayah atau daerah mana yang memakainya. Peran bahasa indonesia di internasional cukup besar pula. Prof. Dr. Marsigit, M.A pernah mengkaji mengenai peran Bahasa Indonesia terhadap salah atau jeleknya globalisasi sekarang ini. Contohnya kata “fraction” dalam bahasa inggris jika diartikan dengan google translate ke bahasa indonesia artinya adalah “bilangan pecahan”, namun jika kita translate kembali ke bahasa inggris maka akan didapat kata “broken number”. Ini mebuktikan bahwa globalisasi akan memakan habis kecerdasan local (local genius). Maka peran bahasa sangatlah penting di ranah internasional.

Menurut David, seorang tokoh dari Warwick University, Etnomatematika bukan sekedar bahasa, melainkan bentuk matematika yaitu proses dan konsep. Kita sebagai pendidik harus mengerti dan dapat membedakan suatu objek dilihat dari formal dan substansinya. Dengan kata lain formal adalah wadahnya, dan substansi adalah isi dari wadah tersebut. Misal, 2+3=5. Konsepnya adalah jumlah atau penjumlahan, namun Prosesnya adalah operasi penambahan. Misalnya lagi, membedakan antara derivatif dan diferensial. Maka yang menjadi konsepnya adalah diferensial, dan yang menjadi preosesnya adalah derivatif. Halus dan lembut perasaan kita, secara teliti, sopan santun akan dapat memaknai antara wadah dan isi, atau antara formal dan substansi. Telah terjadi krisis yang maha besar di Indonesia mengenai mencocokkan antara wadah dan isi. Yaitu telah meenjamurnya kasus korupsi.

Ilmu yang mempelajari Etnomatematika adalah Etnografi. Etnografi ini mengkaji dalam bidang kualitaif dan deskriptif. Namun kebanyakan adalah studi kualitatif. Etnografi juga lebih ditekankan dalam studi riset. Riset yang khusus, spesifik, small, atau dengan kata lain yaitu studi kasus. Disini kita dituntut untuk dapat memikirkan populasi dan sampel yang berdimensi dan fleksibel. Yaitu contohnya populasi kegiatan, populasi data-data, populasi pikiran, kata-kata, kalimat. Kita dapat mengambil contoh dari merekam suatu ritual kelompok masyarakat di pulau Bali, contohnya peristiwa Galungan, Nyepi, apakah ada perhitungan matematisnya atau tidak. Jadi manfaat mempelajari Etnomatematika yaitu agar kita bisa berkontribusi kepada pembelajaran matematika yang inovatif yang sedang kita kerjakan.

Sunday, February 17, 2013

Etnomatematika (Ethnomathematics)

Pertama kali mendengar kata Etnomatematika (Ethnomathematics), yang ada di benak saya adalah mata kuliah matematika yang membahas tentang matematika dalam segi sejarahnya, ternyata saya salah, menurut Prof. Dr. Marsigit, M.A, Etnomatematika adalah kajian matematika yang berkaitan dengan budaya, kontekstual dan realistik. Mendengar hal ini saya menjadi ingin mengkaji lebih dalam mengenai Etnomatematika. Tujuan Etnomatematika itu sendiri adalah mensinkronkan antara matematika dengan jaringan sistemik yang ada pada suatu kebudayaan, atau bisa disebut jaringan sosial. Prof. Dr. Marsigit, M.A pernah bertanya bahwa Etnomatematika ini sebenarnya dibutuhkan dalam matematika dalam bidang apa? Apakah matematika terapan, ilmu statistika, ilmu komputer, atau dalam dunia mengajar? Ternyata dalam dunia mengajar, Etnomatematika ini sangat dibutuhkan karena dengan belajar Etnomatematika akan terbentuk idealitas. Idealitas yaitu sifat bebas merdeka yang timbul dalam diri pribadi tanpa ada tekanan dari lingkungan.

Belakangan ini sering kita jumpai wacana tentang guru-guru kelas IX SMP/MTs maupun kelas XII SMA, SMK atau MA yang under pressure atau dibawah tekanan dari kementrian pendidikan dalam hal Ujian Nasional. Betapa tidak, guru-guru tersebut dipaksa agar anak didiknya lulus 100% dengan nilai yang baik. Hal ini menyababkan guru menjadi seolah-olah terkontrol oleh pihak atas untuk melakukan kewajibannya mengajar anak didiknya. Dengan kita belajar Etnomatematika, hal seperti itu tidak akan terjadi pada guru-guru di sekolah, dengan Etnomatematika juga kita akan menjadi guru yang memiliki idealitas, merdeka, tanpa tekanan, dll. Karena sifat dari Etnomatematika itu sendiri adalah fleksibel, luas dan lembut.

Masih banyak hal yang dapat diulas dalam mata kuliah Etnomatematika. Karena terdapat kata Etno (etnik) pada Etnomatematika dan Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai macam suku bangsa dan etnik yang berbeda-beda, maka ilmu ini kajiannya cukup luas. Mulai dari kegiatan masyarakat sehari-hari di suatu desa tertentu, di pulau jawa misalnya, seperti memperingati seratus hari, seribu hari meninggalnya seseorang, kendurenan, pasaran (legi, pahing, pon, wage, dan kliwon) dalam kalender jawa, dan masih banyak lagi. Jadi dapat saya simpulkan bahwa Etnomatematika didefinisikan sebagai antropologi budaya dari matematika dan pendidikan matematika (cultural anthropology of mathematics and mathematics education).